Herlina Van Tojo

Minggu, 30 September 2012



Tadarus Puisi dan Syair Aceh di Surau Kami

Senin, 17 September 2012 11:30 WIB
HERMAN RN

RUMAH itu lumayan besar untuk sebuah sanggar. Di bagian sebelah kanan, ada tiga ruang disekat. Lukisan melekat pada setiap dindingnya Sketsa yang ditarik secara abstrak itu menjadi nuansa penyejuk ruang. Pada bagian tengah ruang, terdapat sebuah meja rendah persegi empat.

“Inilah Surau Kami, tempat pesantren seni. Di sini kita berpuisi, menulis, menyanyi, melukis, dan melakukan kegiatan seni lainnya,” ujar Guspar Wong, pendiri sekaligus pimpinan Surau Kami di Semarang, Minggu, 16 September 2012.

Setelah berbincang sepatah dua patah kata, Guspar mengajak saya dan teman-teman ke ruang sebelah kanan. Di sana, lukisan ukuran besar terpajang sekeliling dinding. Lukisan-lukisan dalam bentuk absurd itu menggugah mata yang memandang. Adapun kedatangan saya di Surau Kami dalam rangka mendampingi lawatan penyair Zubaidah Djohar.

Di halaman Surau Kami, sebuah panggung sederhana didesain penuh artistik. Latar panggung berupa sebuah sepanduk 6 x 4 meter. Pada sepanduk terdapat ilustrasi wajah Zubaidah Djohar dan sejumlah nama penyair dari Semarang, Yogyakarta, Brebes, termasuk Aceh. Di panggung mungil inilah, kami mementaskan baca puisi secara bergiliran. Guspar menyebutnya sebagai “Tadarus Puisi”.

Sekitar pukul 20.00 WIB, pementasan Tadarrus Puisi dimulai. Pembukaan acara itu diawali dengan iringan musik tradisi Jawa, seperti gamelan dan angklung. Master of Ceremony kemudian memanggil seorang gadis kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Si kecil Ariyanti membawakan kesenian “suluk macapat” yakni puisi yang didendangkan dengan irama tembang Jawa. Suaranya yang mendayu, sesekali melengking tinggi, mampu memukau penonton. Penampilan Ariyanti membuat suasana pembukaan Tadarrus Puisi menjadi hangat, ditambah kocaknya MC yang diperankan oleh Suhenx dari Surau Kami.

Suhenx didampingi oleh seorang turis dari Polandia, Hanna Dabrowska, sehingga jalannya kegatan menjadi warna tersendiri di tangan dua MC tersebut. Satu per satu pembaca puisi dipanggil ke panggung. Akhirnya, tiba giliran sesi diskusi. Diskusi dipandu oleh moderator yang berlatar seorang penyair sekaligus mantan wartawan Republika, Arieyoko.

“Sebelum kita masuk pada diskusi puisi ‘Pulang Melawan Lupa’ karya Zubaidah Djohar, baiknya kita melihat lebih jauh Aceh itu seperti apa dalam kesenian etnik,” ucap Arieyoko sembari memanggil nama saya.

Artinya, giliran saya naik panggung. Dalam kostum pakaian adat Aceh, lintô barô, saya mengawali pertunjukkan dengan syair salam pembuka. Salam tersebut saya lantunkan dengan irama hikayat dangderia. Sengaja saya ucapkan hikayat itu dari tempat duduk sembari berjalan perlahan sampai ke atas panggung. Bagi saya, ini merupakan trik menangkap sugesti penonton.

Selepas mengucapkan salam pembuka dan permintaan maaf dengan jemari di atas ubun, sebuah puisi Zubaidah Djohar pun saya baca. Puisi dengan judul “Damai Siapa “ itu, sesekali saya baca dengan irama berhikayat dan mengaji.

Selepas saya, penyair Yogyakarta, Herlina van Tojo dan Maria Widy yang membawakan puisi karya penyair Zhu. Mereka pun tampil dengan ciri khas masing-masing sebagai penyair tanah Jawa. Irama Melayu Jawa yang disisipkan oleh Maria dalam puisi yang dibacakannya seakan punya kekuatan lain dari roh sebuah puisi.





Tadarus Puisi di Surau Kami semakin lengkap dengan pembacaan puisi oleh yang punya hajatan, Zubaidah Djohar. Ia membawakan tiga puisi, yang juga sesekali diselipi kutipan lagu Aceh. Satu di antara tiga puisi yang dibacakannya adalah “Di Negeri Tujuh Ribu Rok” yang merupakan puisi satir untuk kondisi Meulaboh, Aceh Barat.

Rangkaian terakhir dari Tadarus Puisi adalah diskusi buku “Pulang Melawan Lupa”. Guspar yang menjadi ‘ustad bedah’ menyatakan bahwa penyair adalah orang yang selalu ditantang oleh Tuhan, setelah Namruj dan Firaun. Namun, ia berharap penyair tidak ditantang Tuhan untuk diberikan bala seperti raja-raja zalim tersebut.

“Adapun puisi merupakan kitab penting yang harus ditulis, setelah orang-orang mulai meninggalkan kitab suci secara perlahan. Maka, puisi mesti memiliki peran pengganti yang dapat memberikan sesuatu ke arah yang baik bagi para pembacanya,” kata Guspar.

Kegiatan di Surau Kami Semarang itu merupakan rangkaian dari lawatan penyair Zhu di kota kota. Dua kota sebelumnya, Jakarta dan Yogyakarta, Zhu juga tampil dalam diskusi dan pembacaaan puisi.[]
Diposting oleh Her Jo di 14.06
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Arsip Blog

  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (2)
  • ►  2018 (1)
    • ►  Februari (1)
  • ▼  2012 (9)
    • ▼  September (9)
      • Tadarus Puisi dan Syair Aceh di ...
      • Dibedah, Buku Topeng Karya Slamet Riyadi Sabrawi ...
      • Membaca Antologi Puisi di Sastra Bulan Purnama ...
      • Tadarus Puisi dan Syair Aceh di Surau Kami ...
      • Nanti Malam, Lawatan Penyair Aceh ke Ibukota Peny...
      • ZUBAIDAH DJOHAR AKAN LUNCURKAN “PULANG MELAWAN LUP...
      • PUISI BISU YANG TAK LAGI “BISU” - Zubaidah Djohar...
      • 'Topeng' dari Slamet Riyadi Sabrawi Buku puis...
      • " HARI INI BUKAN HARI KEMARIN" Hari ini aku ...

I'm woman and happy

Her Jo
Lihat profil lengkapku
Tema Perjalanan. Diberdayakan oleh Blogger.