PUISI BISU YANG TAK LAGI “BISU” - Zubaidah Djohar (Pulang Melawan Lupa)
REP | 16 September 2012 | 23:45
Nuansa Aceh begitu kental dalam
perhelatan sastra yang digelar pada hari Sabtu, tanggal 15 September
2012 di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta. Panggung Amphiteater
terlihat artistik dengan background layangan berbentuk manusia dan
dilengkapi daun bambu pada sisi-sisinya.
Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerjasama dengan Komunitas Sastra
Etnik (KSE) melaunching buku Kumpulan Puisi Bisu Penyair Aceh karya
“Zubaidah Djohar” yang bertajuk Pulang Melawan Lupa. Kegiatan tersebut
merupakan rangkaian lawatan baca dan diskusi antologi Puisi Pulang
Melawan Lupa karya Zubaidah Djohar yang tanggal 12 September 2012
kemarin digelar di Jakarta .
Zubaidah Djohar yang akrab disapa Penyair Zhu lahir di ranah Minang. Zhu, sebelum dikenal sebagai seorang penyair, lebih dulu dikenal sebagai seorang peneliti. Penelitiannya tentang Acehlah yang membawanya pada penulisan antologi Puisi Pulang Melawan Lupa.
Sejumlah sastrawan turut tampil sebagai pembicara. MC dipercayakan kepada Latief. Harry Leo memberikan sambutan mewakili SPS (Studio Pertunjukan Sastra) ,Pemberi pengantar Arieyoko, yang sekaligus sebagai dekorator panggung. Hamdy Salad,dosen UIN Yogyakarta dan Sutirman Eka Ardhana.
Pembacaan Puisi yang bertemakan damai untuk Aceh tersebut, dibuka oleh Maria Widhi, kemudian dilanjutkan oleh Catur Stanis,Herman RN, Herlina Van Tojo, Dinar Saka dan Zubaidah Djohar.
Lewat puisinya, Zhu sedang berupaya mengingatkan kita tentang banyak hal yang harus dijelaskan. Bukan untuk menguburkan masa lalu. Zhu berharap kita tidak boleh lupa, bahwa ada kisah kelam yang pernah hinggap dalam kehidupan saudara-saudara kita,terutama “perempuan” yang berada di Aceh.,
Lewat pembacaan puisinya, Aceh terasa tak berjarak. Puisinya menjelaskan banyak hal, dan semoga dengan membaca kumpulan puisi bisu “Pulang Melawan Lupa” ,pembaca tidak lagi “bisu” terhadap keadaan sekitar :)
Zubaidah Djohar yang akrab disapa Penyair Zhu lahir di ranah Minang. Zhu, sebelum dikenal sebagai seorang penyair, lebih dulu dikenal sebagai seorang peneliti. Penelitiannya tentang Acehlah yang membawanya pada penulisan antologi Puisi Pulang Melawan Lupa.
Sejumlah sastrawan turut tampil sebagai pembicara. MC dipercayakan kepada Latief. Harry Leo memberikan sambutan mewakili SPS (Studio Pertunjukan Sastra) ,Pemberi pengantar Arieyoko, yang sekaligus sebagai dekorator panggung. Hamdy Salad,dosen UIN Yogyakarta dan Sutirman Eka Ardhana.
Pembacaan Puisi yang bertemakan damai untuk Aceh tersebut, dibuka oleh Maria Widhi, kemudian dilanjutkan oleh Catur Stanis,Herman RN, Herlina Van Tojo, Dinar Saka dan Zubaidah Djohar.
Lewat puisinya, Zhu sedang berupaya mengingatkan kita tentang banyak hal yang harus dijelaskan. Bukan untuk menguburkan masa lalu. Zhu berharap kita tidak boleh lupa, bahwa ada kisah kelam yang pernah hinggap dalam kehidupan saudara-saudara kita,terutama “perempuan” yang berada di Aceh.,
Lewat pembacaan puisinya, Aceh terasa tak berjarak. Puisinya menjelaskan banyak hal, dan semoga dengan membaca kumpulan puisi bisu “Pulang Melawan Lupa” ,pembaca tidak lagi “bisu” terhadap keadaan sekitar :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar