Minggu, 30 September 2012


Tadarus Puisi dan Syair Aceh di Surau Kami


RUMAH itu lumayan besar untuk sebuah sanggar. Di bagian sebelah kanan, ada tiga ruang disekat. Lukisan melekat pada setiap dindingnya Sketsa yang ditarik secara abstrak itu menjadi nuansa penyejuk ruang. Pada bagian tengah ruang, terdapat sebuah meja rendah persegi empat.

“Inilah Surau Kami, tempat pesantren seni. Di sini kita berpuisi, menulis, menyanyi, melukis, dan melakukan kegiatan seni lainnya,” ujar Guspar Wong, pendiri sekaligus pimpinan Surau Kami di Semarang, Minggu, 16 September 2012.

Setelah berbincang sepatah dua patah kata, Guspar mengajak saya dan teman-teman ke ruang sebelah kanan. Di sana, lukisan ukuran besar terpajang sekeliling dinding. Lukisan-lukisan dalam bentuk absurd itu menggugah mata yang memandang. Adapun kedatangan saya di Surau Kami dalam rangka mendampingi lawatan penyair Zubaidah Djohar.

Di halaman Surau Kami, sebuah panggung sederhana didesain penuh artistik. Latar panggung berupa sebuah sepanduk 6 x 4 meter. Pada sepanduk terdapat ilustrasi wajah Zubaidah Djohar dan sejumlah nama penyair dari Semarang, Yogyakarta, Brebes, termasuk Aceh. Di panggung mungil inilah, kami mementaskan baca puisi secara bergiliran. Guspar menyebutnya sebagai “Tadarus Puisi”.

Sekitar pukul 20.00 WIB, pementasan Tadarrus Puisi dimulai. Pembukaan acara itu diawali dengan iringan musik tradisi Jawa, seperti gamelan dan angklung. Master of Ceremony kemudian memanggil seorang gadis kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Si kecil Ariyanti membawakan kesenian “suluk macapat” yakni puisi yang didendangkan dengan irama tembang Jawa. Suaranya yang mendayu, sesekali melengking tinggi, mampu memukau penonton. Penampilan Ariyanti membuat suasana pembukaan Tadarrus Puisi menjadi hangat, ditambah kocaknya MC yang diperankan oleh Suhenx dari Surau Kami.

Suhenx didampingi oleh seorang turis dari Polandia, Hanna Dabrowska, sehingga jalannya kegatan menjadi warna tersendiri di tangan dua MC tersebut. Satu per satu pembaca puisi dipanggil ke panggung. Akhirnya, tiba giliran sesi diskusi. Diskusi dipandu oleh moderator yang berlatar seorang penyair sekaligus mantan wartawan Republika, Arieyoko.

“Sebelum kita masuk pada diskusi puisi ‘Pulang Melawan Lupa’ karya Zubaidah Djohar, baiknya kita melihat lebih jauh Aceh itu seperti apa dalam kesenian etnik,” ucap Arieyoko sembari memanggil nama saya.

Artinya, giliran saya naik panggung. Dalam kostum pakaian adat Aceh, lintô barô, saya mengawali pertunjukkan dengan syair salam pembuka. Salam tersebut saya lantunkan dengan irama hikayat dangderia. Sengaja saya ucapkan hikayat itu dari tempat duduk sembari berjalan perlahan sampai ke atas panggung. Bagi saya, ini merupakan trik menangkap sugesti penonton.

Selepas mengucapkan salam pembuka dan permintaan maaf dengan jemari di atas ubun, sebuah puisi Zubaidah Djohar pun saya baca. Puisi dengan judul “Damai Siapa “ itu, sesekali saya baca dengan irama berhikayat dan mengaji.

Selepas saya, penyair Yogyakarta, Herlina van Tojo dan Maria Widy yang membawakan puisi karya penyair Zhu. Mereka pun tampil dengan ciri khas masing-masing sebagai penyair tanah Jawa. Irama Melayu Jawa yang disisipkan oleh Maria dalam puisi yang dibacakannya seakan punya kekuatan lain dari roh sebuah puisi.

Tadarus Puisi di Surau Kami semakin lengkap dengan pembacaan puisi oleh yang punya hajatan, Zubaidah Djohar. Ia membawakan tiga puisi, yang juga sesekali diselipi kutipan lagu Aceh. Satu di antara tiga puisi yang dibacakannya adalah “Di Negeri Tujuh Ribu Rok” yang merupakan puisi satir untuk kondisi Meulaboh, Aceh Barat.

Rangkaian terakhir dari Tadarus Puisi adalah diskusi buku “Pulang Melawan Lupa”. Guspar yang menjadi ‘ustad bedah’ menyatakan bahwa penyair adalah orang yang selalu ditantang oleh Tuhan, setelah Namruj dan Firaun. Namun, ia berharap penyair tidak ditantang Tuhan untuk diberikan bala seperti raja-raja zalim tersebut.

“Adapun puisi merupakan kitab penting yang harus ditulis, setelah orang-orang mulai meninggalkan kitab suci secara perlahan. Maka, puisi mesti memiliki peran pengganti yang dapat memberikan sesuatu ke arah yang baik bagi para pembacanya,” kata Guspar.

Kegiatan di Surau Kami Semarang itu merupakan rangkaian dari lawatan penyair Zhu di kota kota. Dua kota sebelumnya, Jakarta dan Yogyakarta, Zhu juga tampil dalam diskusi dan pembacaaan puisi.[]

Dibedah, Buku Topeng Karya Slamet Riyadi Sabrawi


google image 
 
google image

SOLO – Kumpulan puisi karya Slamet Riyadi Sabrawi yang terbaru, Topeng, akan dibedah di Balai Soedjatmoko, Selasa (24/4) malam. Buku yang berisi 150 puisi tersebut akan dibedah oleh budayawan Halim HD.
Dipaparkan Pengelola Balai Soedjatmoko, Yunanto Sutyastomo, acara juga akan diisi pembacaan puisi oleh Ons Untoro, Herlina Van Tojo, Boen Mada dan Kris Budiman. “Slamet Riyadi Sabrawi adalah lulusan Kedokteran Hewan UGM yang sejak 1992 telah aktif menulis. Selain Topeng, kumpulan puisi yang pernah dibuatnya yakni Lilin Melawan Angin (2009) dan Tiba-tiba Ingatanku Menjalari Tubuhmu,” urainya dalam rilis kepada Espos, Minggu (22/4/2012). Chrisna Ventola/*/JIBI/SOLOPOS

Membaca Antologi Puisi di Sastra Bulan Purnama

Membaca Antologi Puisi di Sastra Bulan Purnama
Dharmadi, seorang penyair yang tinggal di Jakarta hadir dalam Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya (5/7) lalu. Kehadirannnya bukan sekedar ingin melihat penyair lainnya membacakan puisi karyanya, tetapi dia membacakan puisi karyanya yang telah dicetak menjadi antologi puisi dan diberi judul ‘Kalau Kau Rindu Aku’

Tak terasa, Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan setiap bulan purnama sudah memasuki edisi ke 10. Pada penanggalan Jawa dikenal, setiap tanggal 15, saatnya bulan purnama: bulat dan bersih bersinar. Tentu saja tanggal nasionalnya selalu tidak sama, pada 5 Juli lalu, tepat tgl 15 pada penanggalan Jawa, artinya acara Sastra Bulan Purnama diselenggarakan. Pada edisi 10, Sastra Bulan Purnama memberi ruang untuk launching antalogi puisi, salah satunya Dharmadi. Selain dia ada Slamet Riyadi Sabrawi, Krishna Miharja, Kris Budiman dan Ons Untoro.

Membaca Antologi Puisi di Sastra Bulan Purnama
Selain dibacakan penyairnya, puisi antologi juga dibacakan oleh penyair dan pembaca puisi yang lain. Putri misalnya, pembaca puisi dari Bali membaca puisi karya Slamet Riyadi. Ida Fitri, Ikun Sri Kuncoro dan Boen Mada, membaca puisi karya Krusbudiman. Herlina Van Tojo membacakan puisi karya Krishna Miharja. Umi Kulsum, Budhi Wiryawan dan Landung Simatupang membacakan puisi karya Ons Untoro.








‘Saya akan membacakan puisi karya Ons, yang saya kira salah cetak, tetapi rupanya tidak. Saya yang salah mengira, ‘Penyiar’ judul puisi yang saya pilih untuk dibacakan” kata Landung Simatupang mengawali sebelum membacakan puisi yang dipilihnya.
Budhi Wiryawan, seorang penyair dan menjabat sebagai ketua KPUD Bantul membacakan puisi yang berjudul ‘Puisi Untuk Istriku’ dan Umi Kulsum membacakan satu puisi yang berjudul ‘Sahabat di Facebook’.
Seperti biasa, Sastra Bulan Purnama dihadairi oleh cukup banyak orang dan tidak hanya dari kalangan penyair saja, tetapi umumnya yang hadir adalah peminat sastra di Yogya, dari generasi tua sampai generasi muda. Mereka sudah saling kenal satu dengan yang lainnya, tetapi, mungkin jarak usia, ada yang tidak saling mengenal. Namun, suasana akrab dan bersahaja, semakin hari semakin terasa di Sastra Bulan Purnama.
Membaca Antologi Puisi di Sastra Bulan Purnama
Selain pembacaan puisi, ada pertunjukan monolog oleh Dhenok Kristianti yang membawakan lakon ‘Kunjungan Nyonya Tua’. Property yang dibawa untuk melengkepai monolog, Dhenok membawa peti mati yang diletakkan di tengah panggung dan dari titik peti itulah peristiwa bergulir.
Dhenok sungguh-sungguh mempersiapkan pertunjukkan monolog itu. Artinya, pertunjukannya tidak sekedar mengisi waktu senggang, melainkan pertunjukkan yang memberi arti pada Sastra Bulan Purnama. Dengan kostum warna hitam dan topi warna hitam. Dhenok seolah seperti sedang berduka, tetapi sekaligus marah.
Dalam penampilannya, Dhenok sungguh menghayati perannya. Terkadang ia mendekati peti mati yang didalamnya ada mayat suaminya. Bahkan bukan hanya sekedar mendekati, melainkan memeluk peti mati, laiknya memeluk suaminya. Selain itu, Dhenok berdiri di atas kursi untuk mengekspresikan penampilannya. Meski ceritanya tidak terlalu panjang, tetapi hampir menelan waktu 30 menit.
“Saya sudah berusaha memperpendek naskanya, tapi rupanya tidak bisa kalau hanya untuk waktu 20 menit, substansi ceritanya tidak bisa kepegang kalau waktunya pendek” kata Dhenok Kristianti.
Selain monolog, ada pertunjukkan musik dari Anterock, yang mengolah puisi menjadi lagu.
Membaca Antologi Puisi di Sastra Bulan Purnama
Sastra Bulan Purnama edisi 10, karena diisi launching 5 antologi puisi, tajuknya diambil rangkaian kata dari judul antologi puisi yang dilaunching ialah ‘Mengenali Topeng Kekasih Dalam Rindu Puisi”.
Ons Untoro


Tadarus Puisi dan Syair Aceh di Surau Kami

RUMAH itu lumayan besar untuk sebuah sanggar. Di bagian sebelah kanan, ada tiga ruang disekat. Lukisan melekat pada setiap dindingnya Sketsa yang ditarik secara abstrak itu menjadi nuansa penyejuk ruang. Pada bagian tengah ruang, terdapat sebuah meja rendah persegi empat.

“Inilah Surau Kami, tempat pesantren seni. Di sini kita berpuisi, menulis, menyanyi, melukis, dan melakukan kegiatan seni lainnya,” ujar Guspar Wong, pendiri sekaligus pimpinan Surau Kami di Semarang, Minggu, 16 September 2012.

Setelah berbincang sepatah dua patah kata, Guspar mengajak saya dan teman-teman ke ruang sebelah kanan. Di sana, lukisan ukuran besar terpajang sekeliling dinding. Lukisan-lukisan dalam bentuk absurd itu menggugah mata yang memandang. Adapun kedatangan saya di Surau Kami dalam rangka mendampingi lawatan penyair Zubaidah Djohar.

Di halaman Surau Kami, sebuah panggung sederhana didesain penuh artistik. Latar panggung berupa sebuah sepanduk 6 x 4 meter. Pada sepanduk terdapat ilustrasi wajah Zubaidah Djohar dan sejumlah nama penyair dari Semarang, Yogyakarta, Brebes, termasuk Aceh. Di panggung mungil inilah, kami mementaskan baca puisi secara bergiliran. Guspar menyebutnya sebagai “Tadarus Puisi”.

Sekitar pukul 20.00 WIB, pementasan Tadarrus Puisi dimulai. Pembukaan acara itu diawali dengan iringan musik tradisi Jawa, seperti gamelan dan angklung. Master of Ceremony kemudian memanggil seorang gadis kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Si kecil Ariyanti membawakan kesenian “suluk macapat” yakni puisi yang didendangkan dengan irama tembang Jawa. Suaranya yang mendayu, sesekali melengking tinggi, mampu memukau penonton. Penampilan Ariyanti membuat suasana pembukaan Tadarrus Puisi menjadi hangat, ditambah kocaknya MC yang diperankan oleh Suhenx dari Surau Kami.

Suhenx didampingi oleh seorang turis dari Polandia, Hanna Dabrowska, sehingga jalannya kegatan menjadi warna tersendiri di tangan dua MC tersebut. Satu per satu pembaca puisi dipanggil ke panggung. Akhirnya, tiba giliran sesi diskusi. Diskusi dipandu oleh moderator yang berlatar seorang penyair sekaligus mantan wartawan Republika, Arieyoko.

“Sebelum kita masuk pada diskusi puisi ‘Pulang Melawan Lupa’ karya Zubaidah Djohar, baiknya kita melihat lebih jauh Aceh itu seperti apa dalam kesenian etnik,” ucap Arieyoko sembari memanggil nama saya.

Artinya, giliran saya naik panggung. Dalam kostum pakaian adat Aceh, lintô barô, saya mengawali pertunjukkan dengan syair salam pembuka. Salam tersebut saya lantunkan dengan irama hikayat dangderia. Sengaja saya ucapkan hikayat itu dari tempat duduk sembari berjalan perlahan sampai ke atas panggung. Bagi saya, ini merupakan trik menangkap sugesti penonton.

Selepas mengucapkan salam pembuka dan permintaan maaf dengan jemari di atas ubun, sebuah puisi Zubaidah Djohar pun saya baca. Puisi dengan judul “Damai Siapa “ itu, sesekali saya baca dengan irama berhikayat dan mengaji.

Selepas saya, penyair Yogyakarta, Herlina van Tojo dan Maria Widy yang membawakan puisi karya penyair Zhu. Mereka pun tampil dengan ciri khas masing-masing sebagai penyair tanah Jawa. Irama Melayu Jawa yang disisipkan oleh Maria dalam puisi yang dibacakannya seakan punya kekuatan lain dari roh sebuah puisi.





Tadarus Puisi di Surau Kami semakin lengkap dengan pembacaan puisi oleh yang punya hajatan, Zubaidah Djohar. Ia membawakan tiga puisi, yang juga sesekali diselipi kutipan lagu Aceh. Satu di antara tiga puisi yang dibacakannya adalah “Di Negeri Tujuh Ribu Rok” yang merupakan puisi satir untuk kondisi Meulaboh, Aceh Barat.

Rangkaian terakhir dari Tadarus Puisi adalah diskusi buku “Pulang Melawan Lupa”. Guspar yang menjadi ‘ustad bedah’ menyatakan bahwa penyair adalah orang yang selalu ditantang oleh Tuhan, setelah Namruj dan Firaun. Namun, ia berharap penyair tidak ditantang Tuhan untuk diberikan bala seperti raja-raja zalim tersebut.

“Adapun puisi merupakan kitab penting yang harus ditulis, setelah orang-orang mulai meninggalkan kitab suci secara perlahan. Maka, puisi mesti memiliki peran pengganti yang dapat memberikan sesuatu ke arah yang baik bagi para pembacanya,” kata Guspar.

Kegiatan di Surau Kami Semarang itu merupakan rangkaian dari lawatan penyair Zhu di kota kota. Dua kota sebelumnya, Jakarta dan Yogyakarta, Zhu juga tampil dalam diskusi dan pembacaaan puisi.[]

Nanti Malam, Lawatan Penyair Aceh ke Ibukota Penyair


YOGYAKARTA-Panggung Aphiteater Taman Budaya Yogyakarta akan dimeriahkan dengan pembacaan puisi penyair Aceh dan penyair Yogyakarta, nanti malam, Sabtu, 15 September 2012. Yogyakarta telah dinobatkan kembali sebagai ibukota penyair sejak 1 September 2012.

Penyair Aceh yang akan membawakan puisi bertemakan damai untuk Aceh itu adalah Zubaidah Djohar. Kendati lahir ranah Minang, penyair Zhu banyak menulis puisi bertemakan Aceh, terutama menyangkut kampanye hak asasi manusia dan perdamaian.

“Saya lahir di Minang. Itu tumpah darah saya, tapi dalam darah saya juga sudah melekat Aceh. Saya meneliti tentang Aceh, saya bekerja di Aceh dan tinggal di Aceh. Makanya puisi-puisi saya banyak bertema Aceh,” ujar Zhu.

Selain Zhu, seniman Aceh lainnya yang turut membacakan puisi di sana adalah Herman RN, yang juga dikenal sebagai cerpenis dan penutur. Adapun penyair Yogyakarta yang akan menghentakkan Amphiteater Taman Budaya itu antara lain Herlina van Tojo, Maria Widhi, Catur Stanis, dan Dinar Saka.

Setelah baca puisi, kegiatan akan dilanjutkan dengan bedah puisi “Pulang Melawan Lupa” antologi puisi perdana Zubaidah Djohar. Puisi-puisi itu akan dibahas oleh Hamdy Salad, doen UIN Sunan Kalijaga. Pemberi pengantar sekaligus dekorator panggung Arieyoko, seorang seniman senior Bojonegoro.

“Panggungnya nanti kita hias dengan kain berbentuk layang. Ada bambu-bambu di pinggir kiri-kanan panggung. Pokoknya, kita usahakan seartistik mungkin,” kata Arieyoko, yang juga mengurusi pementasan yang sama di Semarang pada 16 September 2012 nanti.
Kegiatan tersebut merupakan rangkaian lawatan baca dan diskusi antologi puisi "Pulang Melawan Lupa" karya Zubaidah Djohar di tiga kota, Jakarta (12 September 2012), Yogyakarta (15 September 2012), dan Semarang (16 September 2012). Tidak lama setelah ini, Zhu juga akan membaca puisi di negeri jiran Kuala Lumpur.[]

ZUBAIDAH DJOHAR AKAN LUNCURKAN “PULANG MELAWAN LUPA” - JOGJATRIP

Kontributor: Tryas
Jogjanews.com- Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta (SPS) bersama Komunitas Sastra Etnik (KSE) menggelar peluncuran buku kumpulan puisi Zubaidah Djohar “Pulang Melawan Lupa” di Taman Budaya Yogyakarta pada Sabtu (15/9) di Amphitheatre TBY.

Kumpulan puisi yang telah dirilis di Nanggroe Aceh Darussalam beberapa bulan lalu itu telah mendapat respon yang baik dari para pengamat sastra. Akan tampil sebagai pembicara dalam acara ini adalah Hamdy Salad. Sedang Arieyoko berperan memberikan pengantar, dan Sutirman Eka Ardhana sebagai pembandingnya.

Selain itu acara ini akan menampilkan pembacaan puisi oleh Dinar Saka Setiyawan, Herman RN, Herlina Van Tojo, Maria Widhi, Catur Stanis. Akan bertindak sebagai moderator dalam acara ini Senopati Sukandar.

Zubaidah Djohar sendiri adalah seorang peneliti, sastrawan, dan penggiat kemanusiaan dari Aceh. Sedari kecil dia menyenangi dunia tulis, musik dan tari. Masa remaja perempuan yang akrab disapa Zhu itu lebih banyak menenun hati di persawahan, perbukitan, telaga, dan pergunungan. Zubaidah pernah menjadi mayoret memimpin barisan marching band, juga aktif mengisi training kepimpinan politik dan perdamaian.

Bagi sejumlah pengamat sastra, puisi Dzu tidak hanya menawarkan keindahan puitik, tetapi juga menjadi strategi dalam berpolitik. Dalam karyanya Dzu juga terlihat mahir menuangkan gagasan dengan lugas tapi juga pandai mengolah metafora.

Dalam buku puisi Pulang Melawan Lupa yang diterbitkan oleh Lapena ini terangkum 73 puisi yang terbagi dalam dua bab. Bab pertama disebut Kebenaran Bisu, sementara bab keduanya dinamakan Pulang.

Dalam pengantarnya, Dzu mengatakan Kebenaran Bisu merupakan realitas kehidupan masyarakat terutama kaum perempuan di tengah perdamaian Aceh. Sedangkan Pulang berarti mengajak pembaca untuk merenungkan misi di dunia ini yaitu menyemai kehidupan menuju pulang.


PUISI BISU YANG TAK LAGI “BISU” - Zubaidah Djohar (Pulang Melawan Lupa)

REP | 16 September 2012 | 23:45 Dibaca: 89   Komentar: 3   1 dari 1 Kompasianer menilai aktual
Nuansa Aceh begitu kental dalam perhelatan sastra yang digelar pada hari Sabtu, tanggal 15 September 2012 di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta. Panggung Amphiteater terlihat artistik dengan background layangan berbentuk manusia  dan dilengkapi daun bambu pada sisi-sisinya. Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerjasama dengan Komunitas Sastra Etnik (KSE) melaunching buku Kumpulan Puisi Bisu Penyair Aceh karya “Zubaidah Djohar” yang bertajuk Pulang Melawan Lupa. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian lawatan baca dan diskusi antologi Puisi Pulang Melawan Lupa karya Zubaidah Djohar yang tanggal 12 September 2012 kemarin digelar di Jakarta .
Zubaidah Djohar yang akrab disapa Penyair Zhu lahir di ranah Minang. Zhu, sebelum dikenal sebagai seorang penyair, lebih dulu dikenal sebagai seorang peneliti. Penelitiannya tentang Acehlah  yang membawanya pada penulisan antologi Puisi Pulang Melawan Lupa.
Sejumlah sastrawan turut tampil sebagai pembicara. MC dipercayakan kepada Latief. Harry Leo memberikan sambutan mewakili SPS (Studio Pertunjukan Sastra) ,Pemberi pengantar Arieyoko, yang sekaligus sebagai dekorator panggung. Hamdy Salad,dosen UIN Yogyakarta dan Sutirman Eka Ardhana.
Pembacaan Puisi yang bertemakan damai untuk Aceh tersebut, dibuka oleh Maria Widhi, kemudian dilanjutkan oleh Catur Stanis,Herman RN, Herlina Van Tojo, Dinar Saka dan Zubaidah Djohar.




Lewat puisinya, Zhu sedang berupaya mengingatkan kita tentang banyak hal yang harus dijelaskan. Bukan untuk menguburkan masa lalu. Zhu berharap kita tidak boleh lupa, bahwa ada kisah kelam yang pernah hinggap dalam kehidupan saudara-saudara kita,terutama “perempuan” yang berada di Aceh.,
Lewat pembacaan puisinya, Aceh terasa tak berjarak. Puisinya menjelaskan banyak hal, dan semoga dengan membaca kumpulan puisi bisu “Pulang Melawan Lupa” ,pembaca tidak lagi “bisu” terhadap keadaan sekitar :)
1347813905963172146

'Topeng' dari Slamet Riyadi Sabrawi

'Topeng' dari Slamet Riyadi Sabrawi
Buku puisi kembali mengisi jagad sastra di Indonesia. Banyak buku puisi diterbitkan, dan hebatnya bukan diterbitkan oleh penerbit komersial, melainkan justru diterbitkan oleh komunitas, atau malah diterbitkan oleh penyairnya sendiri. Ada buku puisi yang memuat puisi dari banyak penyair, misalnya 51 penyair, 100 penyair dan seterusnya. Namun ada juga buku puisi karya seorang penyair, yang memuat misalnya 100 puisi, atau 80 puisi. Pendek kata, buku puisi kembali hadir ditengah publik, setelah beberapa lama agak sepi.

Ini ada satu buku puisi yang baru terbit karya Slamet Riyadi Sabrawi dan merupakan buku puisi ketiga yang sudah diterbitkan. Buku puisi yang berjudul ‘Topeng’ ini memuat 150 puisi karyanya sendiri.
Launching buku puisi ini dilakukan Rabu (11/4) lalu di Universitas Ahmad Dahlan di jalan Pramuka, Yogyakarta, dengan menghadirkan pembahas Iman Budhi Santosa, seorang penyair yang sudah 40 tahun lebih menggeluti puisi. Selain pembahasan, beberapa puisi karya Slamet Riyadi dibacakan oleh beberapa penyair dan aktor, seperti Helga Korda, seorang aktor dari Sanggatbambu, yang aktif di tahun 1970-an. Evi Idavati, seorang penyair perempuan dan pembaca puisi yang lain seperti Herlina Van Tojo. Tak ketinggalan Slamet Riyadi Sendiri ikut membacakan puisi karyanya sendiri. Mahasiswa UAD, mengolah satu karya puisi Slamet Riyadi Sabrawi menjadi sebuah pertunjukkan teater.
'Topeng' dari Slamet Riyadi Sabrawi
Bagi Iman Budhi Santosa, cara berpuisi yang dilakukan Persada Studi Klub pada tahun 1970-an sebagai kerja yang baik, dan karena itu bisa diteruskan. Bahkan bukan hanya sekedar baik, melainkan sekaligus adalah benar. Iman Budhi Santosa melihat, puisi-puisi karya Slamet Riyadi Sabrawi adalah puisi-puisi yang baik, tetapi ada satu puisi yang diletakan pada bagian belakang dianggapnya kurang baik. Karena puisinya lebih banyak menulis mengenai protes seperti kebanyakan orang melakukannya.
“Penyair, saya kira, tidak perlu ikut teriak-teriak protes, tetapi tetaplah menulis puisi yang baik dan benar’ kata Iman Budhi Santosa.
Iman Budhi Santosa mengaku, melihat puisi dengan perspektif Jawa, karena bagi dia, yang dilakukan oleh banyak orang selama ini melihat dengan cara barat, seperti apa yang ditulis oleh Krisbudiman dan Ons Untoro dalam bukunya Slamet Riyadi Sabrawi ini.
“Krisbudiman dan Ons Untoro melihatnya dengan perspektif barat’ kata Iman Budhi Santosa.
Menggunakan perspektif Jawa, atau kalau dalam salah satu puisinya Slamet Riyadi Sabrawi mengambil cara berpikirnya Suryamentaram, dan lebih khusus lagi pada peristilahan Kramadangsa, untuk membedakan ‘si aku’. Bahwa Kramadangsa bukan ‘si aku’ itu.
'Topeng' dari Slamet Riyadi Sabrawi
“Orang biasanya mencari yang benar, bukan yang baik. Dalam cara berpikir Jawa, yang benar belum tentu baik, tetapi yang baik (sing apik) pasti benar. Makanya, orang Jawa cenderung mencari ‘sing apik’ (yang baik), bukan ‘sing bener’ (yang benar) kata Iman Budhi Santosa.
Dari 150 puisi yang ada dalam buku ‘Topeng’ Slamet Riyadi Sabrawi menuliskan banyak kisah. Lintasan peristiwa yang dia lihat, atau dia baca dan dengar, tidak lepas dari puisinya. Sepertinya, apa yang dia lihat, dengar dan baca, memberikan inspirasi untuknya. Maka, dia menulis puisi yang berjudul ‘Sandal Jepit Justice’, yang rasanya untuk merespon kisah pencurian sandal jepit yang masuk pengadilan. Dia juga menulis puisi yang berkisah mengenai ‘Tugu’ Yogya. Mungkin, Slamet karena terlalu sering melewati Tugu Yogya yang berdiri persis di perempatan jalan utama Yogyakarta.
Dari 150 puisi yang ada dalam buku ‘Topeng’ dibagi menjadi tiga tema, ialah ‘Menulis Kehidupan’, ‘Menulis Rindu’ dan ‘Menulis Tanda’. Masing-masing tema untuk mewadahi kisah-kisah dalam puisinya, misalnya puisi ‘Sandal jepit Justice’ (di)masuk(kan) pada tema ‘Menulis Kehidupan’, dan puisi yang berkisah mengenai Tugu, Salatiga misalnya, bisa dibaca pada tema ‘Menulis Tanda’. Klasifikasi tiga tema ini, adalah upaya untuk memudahkan mengenali tema-tema dalam puisi karya Slamet Riyadi Sabrawi.
Sebagai penyair, Slamet Riyadi Sabrawi memang sudah lama menulis puisi, bahkan Slamet Riyadi Sabrawi ikut dalam komunitas Persada Studi Klub yang diasuh oleh Umbu Landu Paranggi. Di PSK, kependekan dari Persada Studi Klub, Slamet Riyadi satu angkatan dengan Emha Ainun Najib, (alm) Linus Suryadi AG dan lainnya. Pada masa PSK itu, puisi karya Slamet Riyadi Sabrawi sudah masuk ‘Sabana’, yang merupakan puisi pilihan Umbu Landu Paranggi, yang dianggapnya sebagai puisi yang sudah matang.
'Topeng' dari Slamet Riyadi Sabrawi
Setelah lama berkutat di dunia jurnalistik, Slamet Riyadi Sabrawi, seorang dokter hewan, kembali produktif menulis puisi dan ‘Topeng’ adalah salah satu dari wujud produktivitas itu.
" HARI INI BUKAN HARI KEMARIN"


Hari ini aku sedang duduk di kursi goyang sembari menyeruput kopi kesukaanku
hmmmm nikmatnya hari ini
Sambil ku menatap pemandangan sawah didepan rumahku
hmmmm begitu damai hari ini

Kuberanjakdari kursi goyang, dan segera kuambil selembar kertas
dan ku mulai membuat sketsa 
ya sketsa pemandangan itu, pemandangan yang mengharu biru
Sambil sesekali ku menyruput kopi sampai tandas tak bersisa

sketsa yang telah selesai ku buat, kusimpan dengan kertas-kertas yang lain
kutaruh dalam almari, dan kukunci rapat...
 
Hari ini memang bukan hari kemarin
Hari kemarin pun jelas tidak bisa datang menjadi hari ini